Jangan CENGENG dengan Keadaan

anti malas

Ada perbedaan sudut pandang dalam memahami hadits yang pernah saya publish, yaitu sabda Rasulullah Alaihissalam:

إيّاكَ وَالتّنَعُّمَ فَإنّ عِبَادَ اللهِ لَيْسُوْا بِالْمُتَنَعِّمِيْنَ (روَاهُ الطّبَرَانيّ)ء
“Hindarilah olehmu untuk bersenang-senang, karena para hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang bersenang-senang”. (HR. ath-Thabarani)

Sekilas -dan banyak juga yang mengkritik- bahwa hadits di atas terkesan kita harus hidup sulit, saya pribadi tidak memahaminya seperti itu. Bahkan sebaliknya, itu adalah motivasi yang luar biasa yang akan menjauhkan kita dari godaan pemburu kenikmatan sesaat (pleasure seekers) yang menyesatkan.

Kita tidak disuruh hidup sulit atau bersemboyan “kalau bisa sulit kenapa dipermudah?” (parodi slogan birokrasi masa kini) bukan seperti itu! tapi, kita harus tegar; tidak mudah menyerah dan siap menghadapi segala kesulitan. Bahkan di masa jaya sekalipun kita harus tetap ‘berbuat sesuatu’ dan bukan hanya ‘menikmati’ apa yang kita dapat terutama tugas utama kita ketika jaya adalah menyalurkan rizki yang kita terima kepada sesama manusia sehingga kita tetap dipercaya mengemban ‘amanah’ sebagai Distributor Ni’mat Allah SWT.
Apalagi pada masa sulit, kita pun harus tetap teguh dengan keimanan yang penuh bahwa memang beginilah ‘hidup di dunia’…. kita tidak hidup di sorga yang segala sesuatu dengan mudah kita dapatkan, surga adalah reward yang akan kita terima nanti. JANGAN TERLALU CENGENG dengan keadaan, masih banyak manusia yang luar biasa dalam penderitaan yang luar biasa.
Mari kita belajar dan menelisik kejadian kita di muka bumi ini berdasarkan kitab yang paling dipercaya yaitu al-Qur’an.

Ini pertanyaan buat anda yang hebat, super kaya, atau bahkan  -na’udzu billah- sombong dengan keadaan saat ini:
■ Siapakah manusia yang pernah merasakan hidup yang paling bahagia, paling kaya, paling luar biasa dan paling segal-galanya???
▄ Beliau bukanlah manusia modern, bahkan hidup jauh sebelum jaman batu!! Siapa yang berani menantang luar biasanya Surga? hanya ada 1 pasang manusia yang pernah tinggal di Surga pada masa Hidupnya, yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa. Selain merasakan hidup di Surga, beliau juga dihormati semua makhluk lain termasuk Jin dan Malaikat. Sungguh kehidupan yang super… super luar biasa, baik fasilitas, prestise, kekuasa dll.

Sekarang pertanyaan buat anda yang merasa MANUSIA PALING MENDERITA SEDUNIA.
■ Siapakah manusia yang pernah merasakan penderitaan yang PALING HEBAT sedunia baik secara fisik maupun psikologis?
▄ Jawabannya adalah IDEM!! ya, pasangan Nabi Adam dan Siti hawa lah manusia yang pernah merasakan penderitaan yang luar biasa, coba bayangkan setelah semua kehormata, fasilitas, kenikmatan dan segalanya mereka miliki di ‘Surga’. Kemudian hanya karena tergoda oleh iblis sehingga mereka mendurhakai Allah, mereka ‘diasingkan’ di bumi TANPA FASILITAS APAPUN bahkan pakaianpun tidak diberikan! Hanya badan dan tumpukan penyesalan serta rasa bersalah yang luar biasa yang dibawa ke bumi ini. Tidak ada skill, atau sekedar ruang sel yang didapatkan para koruptor pun tidak disediakan untuk beliau. Semuanya harus diusahakan sendiri dari NOL, baik skill, sandang, pangan, papan dan semuanya…!! apakah ada manusia lain yang pernah mengalami hal lebih parah dari ini?? Apakah lantas beliau pura-pura sakit? bunuh diri? tidak, beliau tetap tegar meskipun bunyi ‘Amar Putusan’ atas kesalahan beliau adalah:
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ
Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. [Q.S 2:36]
1. Anak cucu beliau akan selalu bermusuhan (bahkan telah dimulai dari pasangan anak-anak beliau yang pertama); 2. di’asingkan’ di bumi (dari tempat yang sebelumnya jauh lebih luar biasa di surga); dan 3. kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan (padahal kesenangan sebelumnya jauh lebih hebat dan tak terbatas apapun, kecuali pohon khuldi).

Bertumpuk-tumpuklah kegalauan luar biasa yang beliau alami, Tapi Allah yang Rahman-Rahim itu tidak akan pernah membiarkan hambanya menderita maka:
فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [Q.S 2:37]
Sampai saat ini pun, ketika seseorang berada pada titik nadhir hidupnya maka yang dia butuhkan bukan harta.. dia hanya butuh solusi ajaran (كَلِمَاتٍ) atau hanya OmDo: omongan doang (Saya punya sahabat yang ketika usahanya sangat jaya, kemudian salah satu putranya meninggal di hadapannya! pasangan ini langsung kehilangan semangat hidup, usaha yang dibangunnya dan sedang jaya tidak dapat membantunya.. uangnya yang sangat banyak pun tidak dapat menolongnya. Meskipun terlambat, akhirnya kesadaran meraka bisa pulih bukan dengan harta dan akhirnya mereka melanjutkan hidup dengan anak-anaknya yang lain). Omonganlah yang bisa menyadarkan kita untuk bisa recovery.
Saat itulah Allah mengajarkan kepada Nabi Adam bagaimana ‘Bertaubat’ dan menyikapi hidup. Ini juga lah ‘obat mujarab’ bagi siapa saja yang merasa dalam ‘nasib buruk’ atau perubahan situasi, yaitu TAUBAT yang berari mengakui bahwa ini adalah kesalahan atau hasil dari kesalahan yang dia perbuat sebelumnya. Tidak menyalahkan siapapun atau apapun.

Tapi Adam -layaknya semua manusia- meskipun telah mendapatkan ampunan dan ajaran masih tetap saja ‘kurang percaya diri’ akan kemampuan mengarungi hidup ini. Lagi-lagi Allah SWT mencurahkan Rahman-RahimNya seperti firmanNya:
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.[Q.S 2:38]

Mungkin kalau kita ungkapkan dalam bahasa sehari-hari akan menjadi: “Sudahlah.. jalani saja, karena Aku tidak akan membiarkanmu menderita. Pasti akan Kuberikan petunjuk untuk semua masalahmu. Siapapun yang mengikuti petunjuk-Ku dia tidak akan takut dan sedih” itulah Garansi yang Allah berikan bahwa Dia akan menolong semua hambanya saat mengalami kesulitan, DENGAN PETUNJUK (هُدًى) hudan di sini berarti solusi.
Solusi dari Allah pasti sangat tepat dan bukan Instan seperti Obat kimia yang menyembuhkan satu penyakit tapi membahayakan organ lain sehingga timbul penyakit baru!! maka هُدًى di sini bisa saja bebentuk keadaan, perkataan, kegiatan, pelajaran dll.. yang kalau hati kita terbuka dan dapat ‘menangkap’nya karena tidak terfokus pada ‘satu solusi yang kita pikirkan’ yang tidak hanya nantinya bisa menuntaskan masalah inti tapi juga semua masalah lainnya “فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  ” Tidak akan ada خَوْفٌ (yang dapat berarti takut, khawatir, cemas dll) tidak juga حْزَنُ (yang berarti sedih, sesal, dll). Dua hal yang menjadi sumber malapetaka di dunia, silahkan dibuktikan kejahatan dan kecelakaan apa yang tidak disebabkan dua hal ini? orang takut lapar, miskin, dihina maka dia akan menjadi pencuri, perampok, koruptor, curang dll. karena sedih, menyesal, putus asa orang bisa bunuh diri, gila, ugal-ugalan, ngawur dll. dan JANJI ALLAH barang siapa yang mengikuti petunjukNya maka dia akan terbebas dari dua hal tersebut, apa yang terjadi jika tidak ada yang kita khawatirkan atau kita sedihkan?? pastilah datang tenang, senang dan bahagia.

Jadi, hindarilah bersenang-senang karena dia akan membutakan hati atas petunjuk Allah yang bisa jadi menggoda kita untuk berbuat sesat dalam mendapatkan kenikmatan sesaat.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41) ء
(النازعات)
“Dan adapun orang yang takut akan tuhannya dan ia mencegah diri dari hawa nafsunya maka surga adalah tempat kembalinya”. (QS. an-Nâzi’ât: 40-41)

Jangan juga cengeng dengan keadaan karena jerih payah kita di dunia ini akan menyadarkan kita pada Sang Pencipta dan menjadi kenikmatan yang manis nati di Akhirat.

مَرارةُ الدّنيا حَلاوَةُ الآخرةِ و حلاوةُ الدّنيا مرارةُ الآخرةِ (نهج البلاغه فيض ص 1186)ء
Pahitnya dunia adalah manisnya akherat dan manisnya dunia ada pahitnya akhirat. (Nahjul Balaghah h.1186)

Wallahu a’lam… wa hadaanallahu wa iyyakum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: