Teknik Dasar Dzikir Jiwa (Musyahadah)

Dzikir Jiwa atau lebih dikenal dengan MUSYAHADAH adalah satu ritual olah jiwa dan batin sebagai pondasi bagi semua Ibadah Mahdhoh (murni) seperti shalat dll bahkan seluruh sendi kehidupan agar lebih berbobot sesuai dengan Syari’at.

Hal ini perlu dilatih dengan tekun, sabar dan ihlas. Bisa juga dilakukan untuk mewujudkan hajat tertentu, sebagai booster atas shalat hajat yang didirikan untuk suatu kepentingan dan kebutuhan mendasar kita, dengan syarat hajat tersebut tidak menyalahi syari’at agama.

Berikut ini adalah langkah-langkahnya:

  1. Membaca Niat/hajat dalam hati atau dilafalkan dengan kalimat sendiri yang dipahami.
  2. Membaca Surat Al-Fatihah
  3. Boleh ditambahkan bacaan Ayat Kursi dan al-Ihlas (Surat Pendek lain sesuai dengan hajatnya).
  4. Pejamkan mata perlahan dengan tidak dipaksakan
  5. Membaca dzikir Asmaul Husna dalam hati sekitar 2o menit (pilih sesuai dengan hajat, seperti: Ya Allah Ya Razzaq dll). Hal yang perlu diperhatikan saat melakukan dzikir adalah: a). Tanpa suara tapi penuh perasaan; b). Pasrah Total dan Bulat kepada Allah SWT.; c). Penuh harap yang kuat akan terkabulnya hajat tersebut.; d). Pikiran lepas, rasa ditingkatkan bahwa semuanya tergantung dan terserah Allah SWT.; e). Pusatkan rasa di tengah-tengah dada dengan tidak dipaksakan.; f). Pusar agak ditarik ke belakang.; g). Jangan terpengaruh oleh Suara dan Cahaya.; h). Bila terjadi hal aneh, tahan nafas dalam-dalam kemudian hembuskan perlahan untuk menetralisir, ulangi hingga keadaan normal kembali.; i). Jangan berdialog dalam hati dan hanya ingat Allah terus!.
  6. setelah 20 menit bisa diakhiri dengan menarik dan menahan nafas sekuatnya kemudian dihembuskan ke seluruh tubuh dan telapak tangan untuk diusapkan ke wajah dan sekujur tubuh.
  7. Tutup dengan bacaan Al-Fatihan dan Istighfar 3 atau 5 atau 21 kali.

Lakukan Musyahadah di atas minimal 2 kali sehari (setelah shalat Ashar dan Isya’) lebih utama ditambahkan setelah shalat malam dan shalat fardhu lainnya.

——– ooO(&)O00 ———-

Kesadaran harus diutamakan. Sadarlah bahwa maharuang itu zat mutlak, maka kita Allat Taala Jasad. Maharuang itu Zahir-Nya. Wajib laysa kamitslihi syai’un, artinya tidak ada seumpamanya dengan sesuatu apa pun.

Jadi kita ini bertubuhkan maharuang berjasadkan zat mutlak. Sadari saja kita di dalamnya. Apa saja di dalamnya tinggal ambil saja.

Wa mahyaaya wa mamaaty lillaahi rabbil aalaamin, ‘hidupku untuk Allah, matiku pun karena Allah, kembali pun kepada Allah’. Kalau sudah paham, tidak ada mati dengan tanda-tanda, dengan cara meniadakan apa pun. Tidak perlu macam-macam lagi karena sudah dengan Allah. Yang sangat penting diutamakan: sadar. Cukuplah.

-Syaikh Siradj-

5 Komentar (+add yours?)

  1. Lojo
    Agu 02, 2012 @ 12:36:01

    Alhamdulillah
    lama mencari akhirnya ketemu jua, terima kasih.

    Balas

  2. 22Rumah_kaca
    Sep 15, 2012 @ 14:25:36

    Alhamdulilah pencerahan nya,, sy juga kenal dengan pak ustadz Syekh kundang sirad dan pernah juga sempat belajar di sana bersama bg yakob murid dari wajok.

    Balas

  3. MUXLIMO
    Okt 10, 2012 @ 01:41:39

    Salam alaikum,
    Kutipan atas nama Syaikh Siradj itu benar.. tapi.. apakah langkah-langkah yang disampaikan di atas itu benar-benar dari beliau, Bang??

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: