Menyikapi Takdir dengan Senyuman

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S. 2:216)

Jika anda melihat bahwa anak yang di lahirkan di keluarga kaya adalah beruntung dan yang dilahirkan di keluarga miskin adalah tidak beruntung, maka coba lihat lagi beban kewajiban dan kesempatannya (responsibility and oportunity).

Anak orang-orang kaya sesungguhnya mempunyai beban yang berat untuk ‘mempertahankan kekayaan’ orang tuanya dan mendistibusikannya, padahal nasib tiap orang berbeda. Lihatlah berapa banyak dari mereka yang jatuh dan lebih hina ketika ‘tidak mampu’ mengemban tanggung jawab tersebut dan hanya terjerumus pada life style di luar kemampuannya yang membuatnya lebih terpuruk.

Anak orang miskin yang minim fasilitas, sebenarnya mereka lebih ringan bebannya karena sangat mudah ‘mengungguli’ keadaan orang tuanya dan bahkan mencatatkan namanya dalam sejarah keluarga sebagai pembaharu dan pencerah…. menggapai prestasi demi prestasi tanpa beban bayang-bayang keluarga.

Jadi, siapakah yang lebih beruntung?? dan siapa pula yang tidak beruntung?
dan.. masih pantaskah kita menangis meraung-raung meratapi nasib yang sudah ditentukan ini? please….. BE POSITIVE!!

Bukan “Manusia Berencana, Tuhan yang menentukan” …
tapi “Tuhan Menentukan, Manusia menerima dan mematuhinya”

Awali saja dengan mensyukuri keadaan, Rayakan ‘kemenangan-kemenangan kecil’ yang anda dapati dengan bersyukur:
■ Ketika anda bisa melihat sementara banyak orang untuk dapat melihat harus membayar jutaan bahkan miliaran.
■ Ketika anda bisa berkesempatan menimba ilmu sementara kawan yang lain di luar sana banyak yang tidak mempunyai kesempatan belajar, atau harus berjalan puluhan kilometer melewati hutan dan sungai untuk belajar, atau terpaksa belajar di tempat yang sangat tidak nyaman dengan kualitas pendidikan yang rendah.
■ Ketika anda dapat melihat anak anda berulah kreatif (bukan nakal), sementara banyak pasangan yang harus menunggu sekian lama dengan menghabiskan dana yang besar tapi belum juga dikaruniai anak.
dll….

Terlalu banyak hal ‘kecil’ yang harus disyukuri, walaupun ternyata hal kecil itu seharusnya sangat besar ketika kita tidak memilikinya. Jadi, cukup dengan i’tibar dan muhasabah, meneliti satu persatu ‘APA YANG ADA’ dan kemudian bersyukur dengan membayangkan jika hal ‘ITU TIDAK ADA’
Syukur anda akan ‘memperbesar’ kasih Tuhan untuk lebih banyak memberikan berkah pada kehidupan anda..

Boleh jadi anda membenci sesuatu padahal itu sangat baik buat anda, dan boleh jadi anda mendambakan sesuatu padahal itu mencelakakan anda….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: