Mengenal Makanan Halal-haram Populer

Setiap muslim diperintahkan untuk mengkonsumsi makanan/minuman yang halal dan syukur-syukur, thayib (baik dan menyehatkan). Sebaliknya, kita tidak diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram. Kita juga dianjurkan untuk  menghindari makanan /minuman yang belum jelas statusnya, atau terletak antara halal dan haram (syubhat).

Masalahnya, kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang telah terkondisi dengan bahan-bahan pangan olahan yang dalam proses produksinya, kerap dibubuhkan bahan/ramuan tertentu, dimana tidak semua ramuan itu berasal dari bahan dan atau proses yang halal. Adakalanya ramuan itu juga tidak jelas status dan asal-usulnya. Di bawah ini adalah beberapa contoh makanan yang rawan haram:

1. Roti, Pastri, Black Forest

Awal Maret tahun 2005, masyarakat Jakarta dikejutkan oleh pengumuman Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar masyarakat mewaspadai roti merk Breadtalk karena ditengarai mengandung unsur babi. “Breadtalk Singapura memang sudah mengakui mereka menggunakan unsur babi, tetapi roti Breadtalk disini kan dibuat disini, bukan langsung dari sana, jadi ya belum tentu haram, makanya perlu dikaji.”
Beberapa bulan sebelum itu, masyarakat juga dikejutakan dengan sebuah pemberitaan yang mengatakan jenis roti pastri sangat rawan haram. Di pasaran, roti-roti yang berasal dari luar negeri memiliki tampilan yang sangat menggiurkan. Roti-roti itu biasanya tidak menggunakan ragi sebagai pengembang tetapi hampir selalu menggunakan lemak, seperti margarin atau korsvet. Bahan lemak itulah yang patut dicurigai, karena merupakan titik kritis.
Masih tentang kue, Black Forest, kue dengan sapuan coklat ini menebar cita rasa lezat. Lezat disantap tetapi mengandung kontroversi keharaman. Dalam proses pembuatannya, untuk memberikan aroma dan rasa khas, tercampur rum (ラム) yang mengandung alkohol, dan telah jelas keharamannya. Rum juga memberikan pengaruh terhadap daya tahan kue. Semakin banyak kadar rum, semakin lama
pula daya tahannya.
Tidak ada jalan lain selain meninggalkan rhum dalam proses pembuatan Black Forest. Sebagai alternatif, beberapa ahli pembuat kue di tanah air menggunakan siraman air gula yang kerap disebut simple syrup. Alternatif lainnya adalah penggunaan essence.
Namun, karena selama ini essence dalam bentuk cair biasanya mengandung alkohol, akan lebih baik bila kita menggunakan essence dalam bentuk bubuk.

2. Arak Sebagai Penyedap

Pernahkah anda menyaksikan koki restoran yang sedang memasak sesuatu di penggorengan, lalu menumpahkan sejenis cairan di wajan itu yang membuatnya seperti disambar nyala api? Cairan itu adalah sejenis arak yang mengandung alkohol.

Jenis arak yang digunakan dalam masakan itu bermacam-macam ada arak putih, arak merah, arak mie, arak gentong, dan lain-lain. Arak dicampurkan ke dalam masakan sebagai bahan penyedap. Meskipun dalam proses pengolahannya alkohol akan habis menguap, tetapi rasa dan aroma arak masih tetap menempel pada masakan tersebut. Ada kesalahpahaman di kalangan pengusaha atau juru masak yang tidak menganggap arak sebagai sesuatu yang haram. Jadi, berhati-hatilah mengkonsumsi makanan di restoran besar.

3. Sengsu dan Brem

Di Solo, Klaten, Yogyakarta dan sekitarnya, terdapat sejumlah kios yang bertuliskan ‘Sate Jamu’ dan ‘Sengsu’. ‘Sate Jamu’ dan sengsu adalah istilah untuk sate dan tongseng dari daging anjing. Di Jakarta, warung yang menjual masakan dari daging haram lebih mudah diidentifikasi. Penjual biasanya mencantumkan tulisan B1 pertanda daging anjing dan B2 untuk daging babi di depan warung.

Umat Islam tentunya telah mafhum bahwa daging anjimg hukumnya adalah haram.
Walaupun begitu, hal yang perlu dikhawatirkan adalah jika masyarakat tak mengetahui apa sebenarnya ‘sate jamu’ atau sengsu itu. Apalagi penjualnya tak segan-segan mengatakan bahwa sate ini mampu menyembuhkan penyakit kulit yang diderita bertahun-tahun.

Adalah brem padat, jajanan khas Jawa Timur, yang memang cenderung tak ada masalah untuk dikonsumsi umat Islam. Yang perlu diwaspadai adalah brem yang berbentuk cair. Brem jenis ini biasanya banyak terdapat di Lombok dan Bali yang dikemas dalam botol.

Brem cair ini dibuat melalui proses fermentasi yang memanfaatkan jamur tertentu guna mengurai karbohidrat dan glukosa menjadi ether. Bahan bakunya terdiri dari ragi tape, beras ketan hitam dan putih. Kedua beras ketan tersebut dicampurkan dan direndam semalam, kemudian ditiriskan dan dikukus menjadi nasi. Nasi ketan ini didinginkan di sebuah ruang serta diberi ragi yang telah dihaluskan, dicampur secara merata, dibungkus dengan plastik atau daun pisang. Bungkusan tersebut difermentasikan selama 3-5 hari hingga berbentuk tape yang kemudian dipres agar keluar cairannya, sedangkan ampasnya dibuang. Cairan yang dihasilkan dari
tape tersebut didiamkan beberapa saat, kemudian direbus dalam suhu dibawah titik didih dalam kurun waktu tertentu. Jadilah brem minuman berkadar alkohol tinggi dan tentu saja haram hukumnya.

4. Bika Ambon dan Tape Ketan

Bika Ambon adalah kue berongga, berwarna kekuningan, empuk, agak kenyal, dan manis. Bika Ambon dibuat melalui proses fermentasi dengan menggunakan arak, air tape, atau air nira. Banyak orang yang meyakini kandungan yang terakhir inilah yang paling banyak digunakan produsen kue bika di Medan. Pasalnya nira adalah bahan yang paling mudah ditemukan dan halal.

Bagaimana dengan tape ketan? Proses pembuatan tape ketan relatif mudah. Mulanya beras ketan dicuci bersih kemudian dikukus dan didinginkan. Selanjutnya ditaburi ragi. Terjadilah proses fermentasi yang mengubahnya menjadi tape. Pada saat peragian ini, terjadi perubahan bentuk dari pati menjadi glukosa yang pada akhirnya menghasilkan alkohol. Jadi, tape ketan memang merupakan penganan
yang mengandung alkohol. Meskpun begitu, tape ketan tidak dinyatakan sebagai jenis panganan yang haram (Mudzakarah LP POM MUI, 1993). Sebab, alkohol yang dihasilkan tetap menyatu dengan bahan utama ketan atau menyatu dengan padatannya. Miirip dengan darah hewan yang disembelih. Bila darahnya melekat pada daging dinyatakan halal, tetapi bila darahnya ditampung tersendiri (dadih) menjadi haram.

Persoalannya akan lain jika tape ketan itu kemudian diperas atau disarikan. Sari yang berbentuk cairan sudah pasti dinyatakan sebagai minuman beralkohol. Hukumnya pun telah berubah menjadi haram.
Untuk memastikan bahwa tape tak tergolong haram, kita bisa menyitir sebuah Hadis Nabi SAW yang yang diriwayatkan Abu Dawud. Bahwa minuman yang jika diminum dalam jumlah banyak akan memabukkan, maka sedikitnya pun hukumannya haram. Di samping itu, surat Al Maidah ayat 90 menyatakan pula bahwa sesuatu yang memabukkan, disebut khamr, adalah haram.

Dalam keseharian, kita temukan tak hanya tape ketan saja yang merupakan hasil fermentasi dan mengandung alkohol, meski dalam kadar yang berbeda. Contohnya tempe, kecap kedelai, bahkan acar pun mengalami fermentasi dan mengandung alkohol.
Durian yang tengah ranum sebenarnya juga mengandung alkohol. Namun, tidak ada masalah tentang status makanan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: