.:: Atas nama Allah, bukan mengatas nama kan-Nya ::.

Berawal dari percakapan di satu halaqah yang tidak resmi, dimana di situ ada muballigh, ustadz, kyai dan ‘orang biasa’ (seperti saya ini hehehe).

ustadz: ” saya ini heran sama orang-orang, diajarin yang bener kok banyak yang membantah. Padahal yang saya ajarkan kan Ilmu Allah, malah banyak yang tidak menghargai saya. Saya berbuat seperti ini kan Karena Allah, berjuang untuk Allah…”

Muballigh: “Betul itu tadz, kami juga para da’i ini banyak tidak dihargai. Coba bayangkan, berapa duit yang mereka keluarkan untuk mengundang inul atau para artis itu yang jelas-jelas mengajak ke neraka. Sedangkan kami yang sudah pasti mengajak ke Surga ke Jalan Allah ini sungguh tidak ada harganya.”

Sembari menghela nafas sebentar, beliau melanjutkan.

Muballigh: “Apalagi kalau kami datang dengan kendaraan roda dua, mereka bilang: ‘oh.. ustadznya kok yang main-main gini sih!’ emang ilmu seseorang bisa diukur pake kendaraannya apa?!!… apa karena saya kesana kemari pake BMW imitasi alias: Bebek Merah Warnanya, kemudian harus dianggap jauh lebih bodoh dari mereka yang pake BMW beneran.. Sungguh tidak menghargai para Pejuang di jalan Allah..”

Pak kyai yang sedari tadi diam saja, mulai menggelengkan kepala dan sedikit menghela napas lebih dalam.

Melihat ini sang ustadz dan muballigh merasa pak Kyai ‘di pihaknya’ dan turut prihatin dengan keadaan ini.

Kyai: “Lha sampeyan-sampeyan ini mengajar dan berdakwa apa ya dapat ma’isyah (baca: gaji/penghasilan)”

muballigh: ” inggih pasti pak yai, memang itulah ma’isyah kami”
ustadz: “ya, tapi memang kami harus lebih banyak prihatin makanya hidup kami sederhana”

Kyai: “Karena sampeyan anggap itu semua kan ibadah…”

ustadz/muballigh: “betul pak yai…”

Kyai: ” Ya ndak betul..!” sela pak yai dengan nada sedikit menekan yang membuat ustadz dan muballigh mengernyitkan dahi.

Kyai: “Kalau sampeyan bener-bener ibadah, sampeyan ndak mengharapkan apapun sebagai imbalan. Kalau ada imbalannya berarti sampeyan memang sedan cari duit”

meskipun sebenarnya tidak setuju tapi muballigh dan ustadz hanya bisa terdiam.

Kyai: “JANGAN MEMBOHONGI ALLAH dengan kata-kata ibadah sampeyan itu, kalau memang mau cari duit ya niati saja cari duit biar dapat duit yang banyak dan barakah. Dan kalau memang ada muatan ibadah dalam pekerjaan sampeyan, ya itu bonusnya. Jangan dibolak balik gitu..”

Kyai: “Sampeyan keluar bekerja dengan Bismillah.. atas nama Allah, itu sudah sangat benar tapi kemudian menganggap pekerjaan sampeyan ibadah yang harus dijunjung tinggi oleh orang-orang dengan mengatas namakan Allah itu yang salah… Coba sampeyan renungkan ini…”

Kyai: “Opo yo pasti sampeyan pasti masuk surga, kok berani bilang ngajak orang ke surga. Opo yo pasti omongan dan ajaran sampeyan itu benar 100% padahal dasarnya hanya pengetahuan sampeyan yang gak mungkin 100% menguasai ilmu Allah yang Maha Luas ini… Apa gak lebih baik kalau kita ini Ihlas, istighfar dan selalu memperbaiki diri sendiri.”

Seperti mendapatkan cambukan bertubi-tubi atas kesalahpahaman mereka, sang ustadz dan muballigh, semakin dalam tertunduk. Munculnya kesadaran kebenaran akan apa yang diucapkan pak Kyai membuat mereka tak lagi pernah mengeluh dalam perjuangan mencari nafkah ‘berbonus’ ibadah ini.

Saya yang ‘orang awam’ ini hanya bisa memetik hikmah besar. Ya, saya tidak lagi berani ‘berniat ibadah’ dalam bekerja, hanya saya selalu mencari pekerjaan yang punya bonus ibadah sebagai tambahan ‘sangu akhirat’ kecuali dalam mengerjakan ibadah-ibadah mahdhoh (ibadah yang murni untuk Allah, seperti shalat, puasa dll.).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: