Renungan Ummul Kitab

Khazanah

Sebuah hadits menjelaskan bahwa surat al -Fatihah adalah Induk Kitab (ummul kitâb), atau Intisari Quran (ummul qur’ân). Ia juga disebut dengan Tujuh yang Dibaca Berulang-ulang (as-sab’ul matsâniy), karena selalu dibaca dalam setiap rakaat shalat. Surat ini disebut juga sebagai Quran yang Mulia (al-qurân al-‘azhîm) itu sendiri.

Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (al-Musnad, 5/26) di atas secara ringkas dan pandat menerangkan kedudukan sentral surat Fatihah ini. Ibnu Abbas menegaskan bahwa surat Fatihah memuat nilai-nilai dasar Quran (asâsul qur’ân). Maka, “Semua pesan Quran kembali kepada kandungan makna al-Fatihah ini,” kata Imam Ibnu Katir, mengikuti pendapat seseorang.

Jika demikian adanya, betapa pentingnya merenungi pesan Allah melalui surat al-Fatihah ini. Kita benar-benar perlu membacanya berulang-ulang sampai kita memahaminya, memasukkannya dalam sanubari, lalu mewujudkan pesannya di luar shalat.

Berikut Ummul kitab:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ   (١) .الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ   (٢) .الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ    (٣) .مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ    (٤) .إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ    (٥) .اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ   (٦) .صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ    (٧) . الفاتحة

1. dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].

2. segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam[3].

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

4. yang menguasai[4] di hari Pembalasan[5].

5. hanya Engkaulah yang Kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan[7].

6. Tunjukilah[8] Kami jalan yang lurus,

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[9]

[1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah Senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

[2] Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.

[3] Rabb (tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). ‘Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu.

[4] Maalik (yang menguasai) dengan memanjangkan mim,ia berarti: pemilik. dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.

[5] Yaumiddin (hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa’ dan sebagainya.

[6] Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

[7] Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

[8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

[9] Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

 

Terjemah Tafsiriyah, al-Fatihah (1): 1-7

 

Dengan nama Allah, Maha Mengasihi, Maha Menyayangi (1).

 

Segala puji bagi Allah

Pemelihara semesta alam

Yang Maha Mengasihi (jagat raya dan seisinya)

Yang Maha Menyayangi (para penempuh jalan kebenaran)

Penguasa mutlak Hari Penentuan

Hanya untuk-Mu kami persembahkan hidup ini

Dan hanya dari-Mu kami mengharap pertolongan (2-5).

 

Tuhan, bentangkan di hadapan kami jalan yang benar

Jalan orang yang Engkau anugrahi kesempurnaan nikmat

Yang tidak pernah membuat-Mu murka,

Dan tidak pula jalan orang yang tersesat (6-7).

 

Kata Kunci

Allah, kasih sayang, semesta alam, penguasa, nikmat, jalan kebenaran, jalan kesesatan.

 

Tadabur

Membaca surat Pembuka ini secara perlahan dan memasukkan setiap kata dalam kebeningan hati, terasa sebuah penegasan atas inti ajaran agama yang mulia ini: pengakuan atau penerimaan (imân), penyerahan diri (islâm), lalu meniti hidup di atas jalan kebenaran.

 

Dialah Yang Maha. Pecinta Sejati. Pemberi Yang Tulus. Pada keagungan-Nya segala keangkuhan luluh. Pada kemurnian cinta-Nya semua kebencian meleleh. Yang tinggal hanyalah keteduhan dan rasa hormat yang sangat dalam pada setiap makluknya, bahkan kepada mereka yang menolak-Nya.

 

Ya Rahman, denga kasih-Mu, jadikan aku tunduk pada keagungan-Mu.

Ya Rahim, dengan cinta-Mu, jadikah aku patuh pada kehendak-Mu.

 

Jadikan aku, pikiranku, cita-citaku, perbuatan bahkan diamku berguna bagi kebaikan semesta.

 

Wallahu A’lam

Tadabbur-2

Alfatihah dapat kita lihat dari berbagai sisi dan dimensi, saya sendiri melihatnya… sebagai TEMPLATE dari segala permintaan dan INTI dari Al-Qur’an.
Susunan Sistematis yang diajarkan Alfatihah untuk ‘meminta sesuatu yang sangat besar’ telah banyak diadopsi dalam dunia nyata dan terbukti sangat efektif.
Dimulai dengan tahni’ah dan segala sanjungan, rayuan tulus ihlas yang sungguh-sungguh barulah di ayat ke-6 kita ajukan satu permintaan yang kemudian kita jelaskan di Ayat ke-7. diakhiri dengan harapat dan penerimaan (amin) walaupun tidak masuk pada isi surat.

Hanya satu permintaan yang ada di surat ini – “Ihdinasshiratal Mustaqim” – Apakah dengan Hidayah ke Jalan Lurus semua masalah dapat teratasi? Lalu apa Shiratal Mustaqim yang dimaksud di sini?

Jika kita percaya Al-Qur’an, maka jawabannya pasi ‘Benar’. Shiratal Mustaqim Mencakup seluruhnya sesuai dengan penjabaran di ayat ke-7 “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Apa saja yang kita inginkan dari hal kecil sampai terbesar, dari lahir sampai mati, dari dulu sampai nanti bahkan surga adalah apa yang telah Allah berikan kepada mereka yang mendapat ni’mat. Begitu juga dengan apa yang kita benci dan takuti adalah apa-apa yang telah didapat kan oleh mereka yang dimurkai dan berada di jalan sesat.

Permintaan Agung yang sangat diplomatis, seandainya setiap kali kita membaca itu dan paham betul maksudnya pasti kita tidak akan main-main. Dan jika kita bersungguh-sungguh memanjatkannya kemudian mustajabah, maka tidak akan ada hal aneh untuk mewujudkan hal yang tidak mungkin. Karena semua mungkin terjadi bagi-Nya.

Siapa yang menuntun anda memilih pekerjaan ini, profesi ini, pasangan ini, masa ini dan… semua ini sehingga anda dapat mewujudkan impian anda padahal anda bisa saja memilih yang lain saat itu dan pasti semua tidak manjadi seperti ini.
Atau sebaliknya, jika anda salah pilih berarti anda telah mengabaikan hidayah ke Shiratal mustaqim itu kemudian memilih jalan sesat dan kemurkaan. Maka baca lagi Fatihah ini untuk mendapatkan penawarnya dan kembali ke Shiratal Mustaqim.

Pernahkah anda salah pilih sesuatu tapi kemudian hal itu menyelamatkan anda? itulah kekuatan “Ihdina shiratal Mustaqim”
Kenapa pula dalam shalat anda bisa melalaikan mebaca surat lain tapi bukan al Fatihah??

demikian, semoga kita semua selalu menyadari taufiq dan hidayah yang diberikan pada kita untuk “jalan yang lurus” itu, Amin.

Tadabbur-3

Ada juga teman saya yang mengikuti sistematika/alur ayat-ayat dalam surat al-Fatihah ini untuk membuat sebuah program aplikasi. Me…nariknya, dia seorang Hindu, tapi sangat terkagum-kagum dengan untaian al-Fatihah ini.

Bahkan dia pernah berucap, “Jujur saja, Pak, saya selalu membaca bismillah setiap mengawali sebuah pekerjaan, apalagi ketika mengambil keputusan.”

Semoga kita juga merasakan kekaguman yang sama dan mendapat manfaat untuk kehidupan kita dengan mengambil inspirasi dari surat ini, amin.

 

Terima kasih: JE Abdullah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: