Militer Indonesia, termasuk 4 Negara terkuat di dunia (1960)

1960-an, Era Presiden Sukarno.
kekuatan militer Indonesia adalah salahsatu yang terbesar dan terkuat di dunia. Saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia, dan Amerika sangat khawatir dengan perkembangan kekuatan militer kita yang didukung besar-besaran oleh teknologi terbaru Uni Sovyet.1960, Belanda masih bercokol di Papua. Melihat kekuatan Republik Indonesia yang makin hebat, Belanda yang didukung Barat merancang muslihat untuk membentuk negara boneka yang seakan-akan merdeka, tapi masih dibawah kendali Belanda. Lagi

Meng’kretek’ Anggota Badan, Bahaya atau Tidak?

anatomy-knee-770x470[1]Ketika tubuh kita terasa kaku-kaku dan pegal, kemudian kita membunyikan sendi hingga berbunyi ‘kretek-kretek’ hingga akhirnya memberikan sensasi relaksasi tersendiri. Untuk sejenak, rasa pegal itu bisa hilang atau tercipta suatu kepuasan tersendiri selepas kretek-kretek berbunyi.

Kadang-kadang ketika kamu jalan-jalan bersama teman-temanmu, tiba dikagetkan dengan bunyi ‘kretek’ yang dihasilkan dari pergerakan anggota badan salah satu temanmu. Seusai selesai dia melakukan kebiasaan tersebut, biasanya terpancar wajahnya yang lega dan rileks.

Atau mungkin saja justru kamulah yang sering mengagetkan teman-temanmu dengan bunyi ‘kretek-kretek’ dari anggota badanmu!

Amankah melakukan kebiasaan tersebut? Lagi

Face it!! ..Hadapilah!!

Saya masih ingat di tahun 80an saat di pesantren dulu, Anas kecil itu disuruh maju di hadapan kawan-kawan yang sedang diajar oleh Sang Ustadz (yang juga wali kelas dan bapak asuhnya di pesantren) karena satu kesalahan. “ini.. anas ini selalu ngantuk kalau ngaji habis subuh begini, sini saya hukum… satu.. dua.. tiga…dst” begitu 40 ‘tamparan kecil’ mendarat di muka saya waktu itu. Tidak ada kebencian dalam diri sang ustadz dan tidak pula ada sakit hati pada diri saya, malu..iya… karena sadar akan kesalahan itu dan apapun hukuman bolehlah didapat bagi yang melakukan kesalahan.
Jika mengacu pada mainstream metode pendidikan saat ini dan apalagi jika tersebar di youtube, hal itu akan menjadi heboh dan bisa dimeja hijaukan karena pelanggaran HAM. Tapi saya sendiri dari saat itu hingga detik ini tidak melihat kesalahan sang ustadz dalam kejadian ini.. dan bahkan mungkin ada hal besar yang saya dapat dari peristiwa itu…. “Face it!!.. hadapilah!!!”
Kesadaran akan resiko dalam hidup membuat kita harus siap menghadapi segala sesuatu, menghadapi hantaman dengan penuh kesiapan diri jauh lebih baik dan bermanfaat daripada melarikan diri atau melakukan kecurangan. Semakin sering kita mampu menghadapi terpaan berat kehidupan, semakin tangguh diri kita.
Benarlah adanya bahwa sampai saat ini sudah ratusan bahkan mungkin ribuan ‘tamparan’ besar dan kecil dalam kehidupan saya harus saya hadapi, tidak dengan lari atau menghindar walaupun kadang hal itu menjadi salah satu cara menghadapi ‘tamparan’ itu.
Tidak mengerjakan atau Lalai dalam bertugas, dihina, difitnah, disakiti, diremehkan, dimarahin, ditinggalkan, dikhianati, ditipu, kecelakaan, didatangi debt collector, didzalimi, dipecat sepihak dll.. dll.. adalah tamparan-tamparan kehidupan yang harus kita hadapi.
Untuk itulah, sejak dini jangan ajari anak-anak kita lari dari kenyataan bahkan ajarkan mereka menghadapi kenyataan itu.
○ jika mereka menumpahkan makan dan minuman, memecahkan piring, mengotori tembok dan buku, merusakkan barang dll. maka ajarkan pada mereka cara membersihkan atau memperbaikinya kemudian nasehati agar berhati-hati.
– jika mereka melakukan kesalahan baik besar ataupun kecil ajarkan pada mereka untuk meminta maaf dan berterus terang kemudian siap menerima hukuman.
dll.
Kita butuh generasi yang militan, tangguh dan bertanggung jawab. Bukan hanya generasi pemimpi yang bisanya cuman bersenang-senang menikmati hidup dengan segala cara bahkan dengan cara yang hina sekalipun.
Kekayaan, kehormatan, Gengsi, Status Sosial dan Gaya hidup bukanlah tujuan utama hidup yang boleh mengorbankan hal-hal lain. Rezeki Allah yang berupa “hati lapang” pada hamba-hambaNya yang tangguh adalah rezeki yang tak terlukiskan hebatnya, dengan rezeki itulah kita bisa melihat indahnya kehidupan dalam keadaan apapun tanpa ‘sedih dan takut’ (‘ لاَ خَوفٌ عَلَيهِم وَلاَهُم يَحْزَنُونَ ‘ laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun).
Hal ini juga yang membuat putri George W Bush, Laura Bush, memeluk Islam.. yaitu ketika masuk ke dalam rumah sebuah keluarga di palestina (mungkin di tempat kita lebih cocok disebut gudang) dan disambut seorang Ibu rumah tangga yang di dalam rumahnya hanya ada satu batu tempat meletakkan piring dan gelas plastik untuk berbuka puasa bersama 10 anaknya kemudian menawarkan ‘dengan paksa’ laura untuk ikut berbuka karena dia dianggap tamu sedangkan di dalam ajaran Islam menghormati tamu adalah wajib. Laura sempat marah dengan kitab dan ajaran-ajaran Islam melihat keadaan si Ibu dan keluarganya seperti ini tapi masih harus berpuasa, hingga dia bertanya “kenapa anda berpuasa?” si ibu menjawab “Saya berpuasa untuk merasakan bagaimana orang miskin menderita” Sontak Laura yang aktivis kemanusiaan itu terperangah dengan jawaban si ibu, bagaimana mungkin manusia-manusia yang sangat sederhana ini melakukan sesuatu untuk merasakan penderitaan orang lain??? seketika dia merasa tidak pernah melakukan apa-apa walaupun bertahun-tahun telah menjadi aktivis kemanusiaan karena dia masih sering bersenang-sengan padahal mengetahui banyak manusia lain di dunia ini yang sangat menderita… akhirnya dia berkata “Jika benar beginilah Islam,…. aku mau menjadi seorang muslimah!” … Subhanallah, seketika itu hidayah masuk ke dalam hati Laura Bush.
Begitulah keadaan penduduk palestina yang tiada henti dihantam penderitaan itu menjadi manusia-manusia yang tangguh, mereka terlalu banyak melihat kenyataan orang lain yang jauh lebih menderita sehingga penderitaan mereka bukanlah apa-apa…
Semoga kita mendapatkan Hidayah Allah dan bisa menjadi manusia-manusia yang tangguh dan militan. Amin….

sumber: https://www.facebook.com/m.anas.fauzi/posts/10204088159378281?comment_id=10204088541187826&offset=0&total_comments=4&notif_t=feed_comment

Kenapa harus ber-Islam, padahal ada banyak agama lain?

Banyak orang yang karena keinginannya dianggap sopan dan toleran memberikan kelunakan hukum atas Agama, mulai dari mengatakan bahwa semua agama sama, semua agama mengajarkan kebaikan dll. Sehingga orangpun beranggapan asalkan Baik maka baiklah semuanya.. padahal tidaklah seperti itu adanya.

Kebaikan dan kebenaran haqiqi adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka segala kebaikan baik berupa tindakan ataupun kata-kata bajik dan bijak bersumber dari “Hidayah” Allah. Kita dapat menemukan banyak kata-kata bijak dari seluruh dunia, karena Allah mengutus nabi dan Rasulnya untuk kaum-kaum tertentu di seluruh dunia. Maka wajar jika banyak kata bijak dan kita harus hargai karena sumbernya adalah hidayah Allah.
Salah satu riwayat yang menjelaskan Jumlah Nabi dan Rasul adalah riwayat Dari Abi Zar bahwa Rasulullah bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, “(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.” “Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas (312)” Hadits riwayat At-Turmuzy.

Tapi mengapa harus Islam?? minimal ada 2 hal yang harus kita ketahui, yaitu 1). Perbedaan Nabi dan Rasul; 2) bukti al-Qur’an bahwa kecuali Rasulullah Muhammad, Rasul lain diutus untuk kaum tertentu.

○ Pertama masalah perbedaan Nabi dan Rasul.
>> Jenjang kerasulan lebih tinggi daripada jenjang kenabian,
>> Rasul diutus kepada kaum yang kafir, sedangkan nabi diutus kepada kaum yang telah beriman. (Al-Mu`minun 23:44)
>> Para rasul diutus dengan membawa syari’at baru, sedangkan nabi hanya mengikuti syari’at sebelumnya,
>> Seluruh rasul diselamatkan dari percobaan pembunuhan dari umatnya, tapi sebagian para nabi pernah dibunuh oleh umatnya.
(detil: http://id.wikipedia.org/wiki/Nabi_Islam)

Hal ini yang perlu kita perhatikan bahwa Para Rasul diutus dengan membawa syari’at baru. Ada banyak faktor untuk hal ini, faktor utamanya adalah ketentuan “yang telah dipilih oleh Allah”, hal utama ini saja sudah menjadi alasan yang sangat kuat bagi kita untuk mentaati “Ketentuan Tuhan” belum lagi alasan pemurnian ajaran dll. Karena ” Allahnya sama” itulah mengapa di dalam Islam mengakui bahkan menceritakan Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah Muhammad, tapi tetap ketentuan Allah itu berlaku.
Artinya setelah adanya Rasulullah Muhammad Alaihissalam, maka ajaran Rasul sebelumnya sudah dialihkan kepada Beliau dan karena Beliau adalah Khatamunnabiyyin/penutup para Nabi dan Rasul yang diutus untuk seluruh ummat sampai akhir zaman, seharusnya Syariat beliaulah yang Aktual yang wajib diikuti, sedangkan untuk syariat Rasul sebelumnya Mungkin istilah hukumnya adalah “Batal demi Hukum”.

○ Rasul diutus untuk kaum-kaum tertentu, 25 Rasul yang kita kenal ditutus untuk kaum-kaum:
1. Nabi Adam as nabi sekaligus manusia Pertama.
2. Nabi Idris as dikatakan memiliki umat yang bernama Zuriat Qabil
3. Nabi Nuh as * seorang nabi sekaligus rasul pertama, diutus untuk Bani Rasib.
4. Nabi Hud as diutus untuk ʿĀd yang tinggal di Al-Ahqaf, Yaman.
5. Nabi Shaleh as diutus untuk kaum Tsamūd.

6. Nabi Ibrahim as * diutus untuk kaum Kaldeā di Kaldaniyyun Ur, Iraq.
7. Nabi Luth as diutus untuk negeri Sadūm dan Amūrah.
8. Nabi Ismail as diutus untuk untuk Qabilah Yaman, Mekkah
9. Nabi Ishaq as diutus untuk Kanʻān di wilayah Al-Khalil, Palestina.
10. Nabi Ya’qub as diutus untuk Kanʻān di Syam.
11. Nabi Yusuf as diutus untuk Hyksos dan Kanʻān di Mesir.

12. Nabi Ayyub as diutus untuk Bani Israel.
13. Nabi Dzulkifli as diutus untuk kaum Amoria di Damaskus
14. Nabi Syu’aib as diutus untuk negeri Madyan dan Aykah.
15. Nabi Musa as * diutus untuk Bani Israel.
16. Nabi Harun as diutus untuk Bani Israel.

17. Nabi Daud as diutus untuk Bani Israel.
18. Nabi Sulaeman as diutus untuk Bani Israel.
19. Nabi Ilyas as diutus untuk Funisia dan Bani Israel.
20. Nabi Ilyasa as diutus untuk Bani Israel dan kaum Amoria di Panyas, Syam.
21. Nabi Yunus as diutus untuk bangsa Assyria di Ninawa, Iraq.

22. Nabi Zakaria as diutus untuk Bani Israel di Palestina.
23. Nabi Yahya as diutus untuk Bani Israel di Palestina.
24. Nabi Isa as * diutus untuk Bani Israel di Palestina.

25. Nabi Muhammad saw * nabi & rasul terakhir yang diutus di Jazirah Arab untuk seluruh umat manusia dan jin.

* Ulul Azmi = memiliki ketabahan yang luar biasa dalam menjalankan kenabiannya.
Selain 25 Rasul Tersebut masih ada Ratusan Rasul lain yang tidak dikisahkan di dalam al-Qur’an.

Demikian, Hadaniyallahu wa iyyakum Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Iman dan Imun

Hampir semua dari kita mengetahui kata Imun/Imunitas/Imunisasi, apalagi praktisi kesehatan.
Kata imun berasal dari bahasa Latin ‘immunitas’ yang berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Di dalam ilmu kedokteran berarti kebal terhadap suatu penyakit (KKBI).
penyakit /pe·nya·kit/ n 1 sesuatu yg menyebabkan terjadinya gangguan pd makhluk hidup (KKBI).
Berarti secara Etimologis, Imun berarti Kekebalan akan sesuatu yg menyebabkan terjadinya gangguan pada makhluk hidup.

Allah Yang Maha Adil itu tidak akan menciptakan sesuatu dengan kecurangan, by default makhluk akan terlahir normal seimbang dengan segala pirantinya namun seandainya ada piranti yang berkurang maka ada piranti lain yang mempunyai kelebihan jadi akan tetap adil dan seimbang.
Dalam perjalanannya piranti-piranti itu sering kali dipergunakan tidak sesuai peruntukannya dan karena kesalahan-kesalahan tersebut maka terjadilah sesuatu yang mengganggu keseimbangan dan mulailah terjadilah gangguan itu.

Hal yang paling logis dilakukan jika terjadi gangguan adalah mengembalikan lagi segala-sesuatu pada posisi dan peruntukannya kemudian mulai menghilangkan ekses-eksesnya.

Dalam bahasa agama, penggunaan tidak sesuai peruntukannya adalah DOSA/kesalahan sedangkan mengembalikan sesuatu kepada peruntukannya (sesuai dengan ketentuan Sang Pencipta) itu dinamakan TAUBAT atau dalam bahasa umumnya kembali kepada-Nya, sedangkan menghilangkan ekses itu dalam bahasa agamanya adalah ISTIGHFAR atau mohon ampun berarti pula mohon perbaikan.
Jadi, itulah cara yang paling logis menghadapi segala gangguan pada makhluk hidup. Baik berupa kesusahan hidup ataupun penyakit, sedangkan obat secara Sunnatullah adalah additional, add ons dan booster saja. Jadi jangan heran kalau orang hanya mengandalkan obat dan dokter maka akan “habis” lah dia….

Dan sekarang kalau kita bahas yang lebih prinsip lagi, kenapa terjadi penggunaan piranti kehidupan diluar peruntukannya?? Karena si pengguna ‘berani’ menentang ketentuan pencipta akan ciptaan tersebut, kalau si pengguna tunduk patuh pada ketentuan maka tidak akan terjadi penyelewengan tersebut dan tidak terjadi pula gangguan.
Sekarang kita kembalikan pada Agama, di agama kita kenal yang namanya IMAN yaitu keyakinan kepad Allah Azza Wa Jalla Sang Pencipta Segala. Prinsip dasar keimanan adalah:
“Jika anda takut kepada Sang Pencipta maka seluruh ciptaan-Nya juga akan takut kepada anda dan jika anda berani kepada sang pencipta maka seluruh ciptaan-Nya akan berani kepada anda” jadi manifestasi Iman adalah Taqwa (takut kepada Sang Pencipta).

Maka dengan demikian Iman adalah Imun dalam kehidupan, siapa yang kehilangan iman dia akan kehilangan imun.

Tapi kenapa banyak juga orang Alim dan Ahli Agama terjerumus dalam dosa?
Ya karena orang Ahli Agama atau Alim (bhs. Arab berarti banyak ilmu) mereka hanya tahu segala hal ini tapi tidak ada manifestasinya, bahasa kasarnya adalah tahu Iman tapi belum ber-Iman. Kalau mereka sudah beriman maka Taqwa akan jadi pakaiannya dan jika Taqwa adalah sudah menjadi pakaiannya maka sungguh dia adalah pelindung terbaik dari segala perbuatan dosa. Begitulah ketentuan dalam al-Quran:
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Artinya:
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (Q.S 7:26).

Salah satu Qaul mengatakan bahwa “IMAN itu telanjang, pakaiannya adalah TAQWA”.

Jadi sekarang kita tahu beberapa hal:
○ Kenapa dalam setiap khutbah jum’at kita diserukan untuk bertaqwa dan bukan hanya beriman.
○ Dari mana Sumber penyakit dan segala masalah hidup.
○ Bagaimana mengatasi segala masalah hidup dan kesehatan dalam kehidupan ini.
○ Kenapa Doa menjadi senjata andalan bagi Ummat Islam.
○ Mengapa kita HARUS BERAGAMA, dan mengapa KETUHANAN YANG MAHA ESA dijadikan Sila Pertama oleh Pendiri Bangsa Ini.

Konsep Keseimbangan Dunia-Akhirat dalam Islam

Salah satu doa yang paling populer adalah ( رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ) begitulah kemudian orang memandang harus adanya konsep keseimbangan Dunia-Akhirat, aplikasinya biasa dikaitkan dengan ( اعمل لدنياك كأنك تعيش ابدا واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً ) Ibadah Full, bekerja Full. Akhirnya pandangan idealisnya akan mengerucut pada Orang Alim yang Kaya.

Hikayat-hikayat mengenai orang-orang alim yang kaya dan dermawan menjadi hal yang paling diminati untuk ditauladani, hingga suatu saat seorang sahabat bertemu dengan pribadi yang demikian. Seorang Alim yang kaya dan dermawan, sayangnya pada saat itu si Alim dalam keadaan gelisah! Dan beliau bercerita akan banyak hal yang semuanya lempeng. Meskipun hanya seorang yang ditemui, tapi sahabat ini mengetahui bahka konsep “Alim Kaya dan Dermawan” telah terpatahkan.

Akhirnya kembali pada rujukan utama. Tiada ummat Manusia (terutama Muslim) yang lebih alim dari Rasulullah alahissalam, bahkan beliaulah panutan utama ummat Islam sedunia. Kapankah Rasaulullah mencapai puncak kealiman dan keimanan beliau? Pada saat beliau diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Bagaimanakah keadaan beliau saat dan selepas menjadi Nabi dan Rasul? Adakah keadaan beliau Kaya dan Demawan? Jadi bagaimanakah sesungguhnya konsep keseimbangan dunia-akhirat dalam Islam?

Ketika dunia barat sekarang menyadari akan bahaya “Hedonic Treadmill” – yaitu keadaan seseorang dengan kekayaan dan penghasilannya yang meningkat namun sebenarnya kebahagiaannya tidaklah meningkat – Islam sudah mengenalkan konsep “Qana’ah” sejak 1500 tahun yang lalu.

Banyaknya Industri ‘janji-janji’ menelurkan motivator-motivator untuk memompa kinerja pelaku dan karyawannya agar meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kekayaan. Karena standard sosial akan meningkat dengan peningkatan kekayaan dan termasuk juga para penganut agama yang taat mereka menyandingkan puncak kesejahteraan ini dengan puncak keimanan.

Padahal saat mengejar ‘kaya’ kebanyakan orang akat terjebak pada “Hedonic Treadmill”, saat penghasilan 5 juta, semuanya habis dan Saat penghasilan naik 30 juta juga habis.

Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidup pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilan. Dengan kata lain, nafsu membeli dan memiliki materi akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan income-me. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill : seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju. Sebab nafsu-mu akan materi tidak akan pernah terpuaskan.

Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill dan Lolos dari jebakan nafsu materi yang tidak pernah berhenti?

Disinilah relevansi untuk terus mempraktekan gaya hidup bersahaja ( qona’ah ) yang diajarkan Islam, sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.

Ketika prinsip hedonic treadmill adalah : more is better. Makin banyak materi yang kamu miliki makin bagus. Jebakan nafsu yang terus membuai dan Godaan nafsu kemewahan yang terus berkibar-kibar.

Maka prinsin Qana’ah adalah kebalikannya : less is more. Makin sedikit kemewahan materi yang kamu miliki, makin indah dunia ini. Gaya hidup minimalis yang bersahaja punya prinsip : hidup akan lebih bermakna jika kita hidup secukupnya. When enough is enough. Prinsip hidup bersahaja, yang tidak silau dengan kemewahan materi, justru akan membawa kita pada kebahagiaan hakiki.

Dalam istilah islam kita kenal dengan ” zuhud ” yaitu meletakan materi duniawi pada tempatnya, sedikit atau banyaknya materi yg dimiliki tidak mengganggu ketaatan kepada Allah dan tidak merubah sikap sederhana dlm prinsip hidup bersahaja.

 

Tauladan Rasulullah alaihissalam setelah beliau menjadi Nabi dan Rasul yang hidup dalam kesederhanaan (bahkan ada riwayat yang menceritakan bahwa ada ikatan 7 batu di perut beliau yang menandakan bahwa beliau telah berpuasa selama 7 hari karena kesahajaan hidup beliau) dianggap satu keistimewaan yang sangat sulit ditiru oleh ummatnya, para motivator bahkan lebih memotivasi pada keadaan beliau saat remaja sebelum menjadi Nabi dan Rasul, yaitu saat beliau menjadi pedagang yang dalam masa modern ini dikenal sebagai bisniman atau eksekutif muda. Padahal seharusnya goal kehidupan seseorang harusnya mengikuti tauladan beliau pada masa puncak keimana hingga wafat dan bukan saja pada puncak kesuksesan financial beliau, karena Rasulullah tidak akan memberikan tauladan yang tidak dibisai ummatnya.

Kalaupun kita tidak mampu mengikuti beliau 100% yang memang hampir mustahil, paling tidak 20-50% pun tak apalah… Yang penting kita telah berjalan di jalan yang tepat, dan inilah tauladan “keseimbangan dunia-akhirat” yang realistis yang bisa kita capai.

8 (Delapan) syarat dalam berpakaian, wanita muslimah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sungguh Islam, adalah separangkat aturan yang sempurna bagi Ummat Manusia. Islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas bagi ummat manusia termasuk di dalamnya adalah kaum wanita. Di dalam berapakain, Islam juga telah memberikan aturan yang jelas. Aturan yang haq, paling benar demi menuju keselamatan.
Berikut setidaknya ada delapan aturan yang mengikat wanita muslimah di saat ingin mengenakan pakaian :
1. Pakaian Wanita Harus Menutupi Aurat
Telah berkata Aisyah .a “ Sesungguhnya, Asma’binti Abu Bakar menemui Nabi saw dengan memakai busana yang nipis ” Maka nabi berpaling daripadanya dan bersabda “Wahai Asma’ , sesungguhnya apabila wanita itu telah baligh (sudah haid) tidak boleh dilihat daripadanya kecuali ini dan ini , sambil mengisyaratkan kepada muka dan tapak tangannya”
2. Pakaian Wanita Tidak Boleh Terlalu Tipis
Dalam sebuah hadits shohih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua golongan daripenduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu : Suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan ini dan ini.” (HR.Muslim).
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga dapat menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, 125-126).
3. Pakaian Wanita tidak boleh sempit sehingga menampakkan bentuk-bentuk tubuh.
Pakaian wanita di sini maksudnya harus longgar. Ini sebanarnya yang banyak juga mengundang keprihatinan kita terhadap kondisi wanita-wanita sekarang ini. Mereka dengan percaya dirinya mengatakan dirinya telah menutupi auratnya di saat mengenakan jilbab yangdimodifikasitetapi biasanya masih menggunakan celana jeans, dan biasanya dipadukan dengan hanya memakai bajukaos. Ini merupakan cara berpakaian yang salah, walaupun mereka telah mengenakan khimar atau penutup kepala, tetapi yang bermasalah adalah celana jeans dan baju kaos yang mereka gunakan. Celana jeans dan baju kaos dapat membentuk lekuk tubuh sehingga tidak termasuk pakaian yang syar’i.
4. Anjuran Memakai Pakaian yang Berwarna Gelap atau yang semisalnya.
Menurut Ibnu Kathir di dalam tafsirnya pakaian wanita-wanita pada zaman Nabi saw ketika mereka keluar rumahberwarna hitam atau yang berwarna abu-abu.
5. Pakaian yang digunakan Tidak boleh disemprotkan parfum.
Sebagaimana aturan bahwa wanita tidak boleh memakai parfum di saat keluar rumah, begitu pula kaidah untuk pakaian yang wanita gunakan.
Hal ini dikarenakan parfum diperuntukkan untuk pria di saat keluar rumah. Dilarangnya wanita untuk memakai parfum di saat keluar rumah adalah karena Islam sangat menjaga harkat dan martabat Wanita. Sealain itu, larangan memakai parfum bagi wanita juga untuk menghindarkan wanita dari pengaruh fitnah.
yang memakai bau-bauan ketika keluar rumah sehingga lelaki mencium baunya disifatkan oleh Rasulullah saw sebagai zaniyah, yakni pelacur atau penzina.
“Wanita apabila memakai wangi-wangian , kemudian berjalan melintasi kaum lelaki maka dia itu begini dan begini iaitu pelacur ” (Riwayat Abu Dawud dan Tirmizi).
6. Pakaian Wanita tidak boleh menyerupai pakaian pria
Hal ini disandarkan pada hadits dari Rasulullah SAW “Rasulullah saw telah melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita-wanita yang menyerupai lelaki”(Riwayat Bukhari).
7. Pakaian itu bukanlah libasu sh-shuhrah, yakni pakaian untuk bermegah-megah
Pakaian ini biasanya dimaksudkan untuk menunjuk-nunjuk atau bergaya. “Barangsiapa mengenakan pakaian syuhroh di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan padanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan).
8. Pakaian tersebut tidak terdapat gambar makhluk bernyawa (manusia dan hewan).
Gambar makhluk juga termasuk perhiasan. Jadi, hal ini sudah termasuk dalam larangan bertabaruj sebagaimana yang disebutkan dalam syarat kedua di atas. Ada pula dalil lain yang mendukung hal ini.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumahku, lalu di sana ada kain yang tertutup gambar (makhluk bernyawa yang memiliki ruh, pen). Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau langsung merubah warnanya dan menyobeknya. Setelah itu beliau bersabda, ”Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah yang menyerupakan ciptaan Allah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan ini adalah lafazhnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, An Nasa’i dan Ahmad)

10 Kesalahan Isteri terhadap suami

Perilaku para istri dijaman sekarang kebanyakan tapi tidak semua melenceng dari syariat islam. hal ini mungkin dikarenakan berbagai sebab diantaranya karena kurangnya ilmu ,nilai keimanan ,karena contoh dari sinetron yang kebanyakan tak sesuai dengan syariat islam ,karena pergaulan yang salah.
Berikut ada 10 kesalahan istri yang umum di masyarakat kita:
1. Menuntut Keluarga Yang Ideal Dan Sempurna
Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis.
Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.
Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.
Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.
Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.
2. Nusyus (Tidak Taat Kepada Suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.
Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
1. Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
2. Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
3. Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah.
4. Lalai dalam melayani suami.
5. Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
6. Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya.
7. Keluar rumah tanpa izin suami.
8. Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.
Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.
3. Tidak Menyukai Keluarga Suami
Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.
Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami.
Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.
Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.
Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya.
Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.
4. Tidak Menjaga Penampilan
Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah.
Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.
Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.
5. Kurang Berterima Kasih
Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.
Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.
Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Qs.Ibrahim :7 )
6. Mengingkari Kebaikan Suami
“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.”
Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.
Wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?
“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?
Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).
Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!
Mengingkari kebaikan-kebaikannya, maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat, satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan, masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?
Janganlah engkau katakan besok dan besok; kejarlah ajalmu, bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?
“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)
Jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri, jangan sampai apa yang di lakukan tanpa di sadari membawa kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah di ketahui.
Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami lakukan.
“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.”(HR.Ahmad)
7. Mengungkit-Ungkit Kebaikan
Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]
Abu Dzar radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,“Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]
8. Sibuk Di Luar Rumah
Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.
Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.
Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika hni terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.
9. Cemburu Buta
Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.
Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.
Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.
10. Kurang Menjaga Perasaan Suami
Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.

Previous Older Entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.